Sejarah Desa Kalitapen
Kecamatan Tapen Kabupaten Bodowoso
Nama "Kalitapen" diduga berasal dari gabungan kata "Kali" yang berarti sungai dan "Tapen" yang bisa merujuk pada kata "bertapa". Legenda yang diyakini masyarakat setempat menyebutkan bahwa jauh di masa lampau, di dekat sungai yang mengalir membelah desa, hiduplah seorang pertapa sakti yang Bernama Syeh Dhiman Kertosusilo berasal dari Pulau Madura. Petilasan dikenal sampai saat ini dengan sebutan “Bujuk Kali” atau “juk kali”, Sungai tersebut, yang menjadi sumber kehidupan dan tempat sang pertapa melakukan ritual, kemudian dikenal dengan sebutan Kali Tapen.
Konon, pertapa tersebut memiliki kesaktian dan kebijaksanaan tinggi. Ia sering dimintai nasihat oleh para penduduk yang mulai membuka lahan di sekitar sungai. Pada suatu musim kemarau panjang, ketika air sungai menyusut dan mengancam pertanian warga, sang pertapa melakukan tapa dan memohon berkah. Setelah beberapa hari, hujan deras turun dan menghidupkan kembali mata air sungai. Air sungai kembali jernih dan mengalir deras, menghidupkan kembali sawah dan ladang penduduk. Sejak saat itu, warga percaya bahwa daerah tersebut diberkahi, dan perkampungan yang tumbuh di sekitarnya dinamakan Kalitapen.
Masa Kolonial dan Perkebunan
Seperti wilayah Bondowoso pada umumnya, sejarah Kalitapen juga tidak lepas dari masa kolonial Belanda. Daerah ini, yang pada awalnya berupa hutan dan ladang, dibuka dan dijadikan sebagai lahan perkebunan, terutama perkebunan tebu dan tembakau. Berbagai pendatang dari Madura, Jawa Tengah, dan daerah lainnya datang untuk bekerja di perkebunan-perkebunan ini. Interaksi budaya yang terjadi turut membentuk karakteristik masyarakat Desa Kalitapen yang multikultural dan menjunjung tinggi gotong royong.
Peninggalan berupa rumah-rumah bergaya arsitektur kolonial, serta sisa-sisa jalur kereta api lori yang digunakan untuk mengangkut hasil perkebunan, menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu. Kehidupan warga pada masa itu sangat bergantung pada aktivitas perkebunan yang dikelola oleh pemerintah kolonial.
Pasca Kemerdekaan dan Semangat Gotong Royong
Setelah Indonesia merdeka, Desa Kalitapen mengalami perubahan signifikan. Perkebunan-perkebunan besar dinasionalisasi dan sebagian lahannya dibagikan kepada rakyat, sehingga masyarakat menjadi lebih mandiri dalam mengelola pertaniannya. Semangat gotong royong yang telah lama terbentuk semakin kuat dalam membangun desa.
Berbagai tradisi lokal terus dilestarikan oleh masyarakat, seperti ritual selamatan desa atau upacara adat lainnya. Tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai ritual keagamaan, tetapi juga sebagai sarana untuk mempererat tali silaturahmi dan persaudaraan antarwarga.
Kalitapen Hari Ini
Hingga saat ini, Desa Kalitapen terus berkembang sebagai salah satu desa di Kecamatan Tapen. Jejak sejarah yang kaya masih terasa di setiap sudutnya. Sungai yang dulunya menjadi tempat pertapa kini menjadi sumber kehidupan utama bagi para petani. Cerita-cerita tentang pertapa sakti terus diceritakan dari generasi ke generasi, menjadi pengingat akan pentingnya menjaga alam dan kerukunan. Meskipun modernisasi perlahan masuk, nilai-nilai tradisional dan semangat kebersamaan tetap menjadi fondasi yang kokoh bagi masyarakat Desa Kalitapen.